For English, open this page with Google Chrome or use Google Translator.
Even though the translation isn't perfect, but at least you'll kind of understand what I say.
I used formal Indonesian for easy translation.
Sore itu hujan mengguyur deras di Jakarta, tak terkecuali daerah tempat aku tinggal.
Aku harus kerepotan membawa payung untuk membuka gerbang dan garasi rumahku.
Saat mobil sudah masuk dan aku pergi menuju gerbang untuk menutupnya, seorang ibu paruh baya, dengan baju kaos bertuliskan Yakult dan sebuah gerobak tarik kecil, mendatangiku. Ia berjalan tanpa payung ditengah derasnya hujan angin.
"Selamat sore, dik. Mau beli Yakult tidak?" katanya ramah.
"Umm, saya tidak tahu, bu." jawabku.
"Kalau begitu, coba tanya ibumu. Siapa tahu ibu berminat?"
Aku menanyakan ibuku apa ia ingin membeli Yakult atau tidak. Ibuku mengangguk, lalu memberikan Rp 12.000,- padaku. "Satunya Rp 6.000,- , beli dua ya,"
Lalu aku kembali pada si ibu penjual Yakult.
"Ini bu, saya ingin beli dua."
"Wah, baiklah." Ia membuka gerobak kecilnya dan mengambil dua bungkus Yakult, mengambil kantong plastik dan memberikannya padaku. Aku memberi uangnya.
"Terima kasih banyak ya, dik. Bilang sama mama dan keluarga untuk minum Yakult setiap hari, jadi selalu sehat." pesannya dengan ramah.
"Baik, bu,"
"Kalau begitu, saya permisi dulu." katanya, dengan menarik gerobak kecilnya. Ia melanjutkan perjalanannya ke tengah hujan angin yang dingin dan deras.
Aku menutup pintu.
----------------------
Aku tidak bisa membayangkan, betapa kerasnya perjuangan seorang ibu penjual Yakult tadi.
Bayangkan saja, ia menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah, komplek demi komplek. Mana ia tidak membawa payung sama sekali. Badannya basah kuyup.
Namun...ia masih bisa bersikap sangat ramah.
Seorang wanita yang perjuangannya sebesar itu, seberapakah besar gajinya?
Tentu tidak sebanding dengan total hasil yang ia dapatkan hari itu.
Aku saja, baru pulang dari mal Grand Indonesia, yang jelas itu adalah mal mewah.
Bagaimana dengannya? Apa ia pernah ke sana, atau ke tempat seperti itu?
Ya Tuhan...semoga kebaikannya dibalas dengan pahala yang berlimpah.
Even though the translation isn't perfect, but at least you'll kind of understand what I say.
I used formal Indonesian for easy translation.
Sore itu hujan mengguyur deras di Jakarta, tak terkecuali daerah tempat aku tinggal.
Aku harus kerepotan membawa payung untuk membuka gerbang dan garasi rumahku.
Saat mobil sudah masuk dan aku pergi menuju gerbang untuk menutupnya, seorang ibu paruh baya, dengan baju kaos bertuliskan Yakult dan sebuah gerobak tarik kecil, mendatangiku. Ia berjalan tanpa payung ditengah derasnya hujan angin.
"Selamat sore, dik. Mau beli Yakult tidak?" katanya ramah.
"Umm, saya tidak tahu, bu." jawabku.
"Kalau begitu, coba tanya ibumu. Siapa tahu ibu berminat?"
Aku menanyakan ibuku apa ia ingin membeli Yakult atau tidak. Ibuku mengangguk, lalu memberikan Rp 12.000,- padaku. "Satunya Rp 6.000,- , beli dua ya,"
Lalu aku kembali pada si ibu penjual Yakult.
"Ini bu, saya ingin beli dua."
"Wah, baiklah." Ia membuka gerobak kecilnya dan mengambil dua bungkus Yakult, mengambil kantong plastik dan memberikannya padaku. Aku memberi uangnya.
"Terima kasih banyak ya, dik. Bilang sama mama dan keluarga untuk minum Yakult setiap hari, jadi selalu sehat." pesannya dengan ramah.
"Baik, bu,"
"Kalau begitu, saya permisi dulu." katanya, dengan menarik gerobak kecilnya. Ia melanjutkan perjalanannya ke tengah hujan angin yang dingin dan deras.
Aku menutup pintu.
----------------------
Aku tidak bisa membayangkan, betapa kerasnya perjuangan seorang ibu penjual Yakult tadi.
Bayangkan saja, ia menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah, komplek demi komplek. Mana ia tidak membawa payung sama sekali. Badannya basah kuyup.
Namun...ia masih bisa bersikap sangat ramah.
Seorang wanita yang perjuangannya sebesar itu, seberapakah besar gajinya?
Tentu tidak sebanding dengan total hasil yang ia dapatkan hari itu.
Aku saja, baru pulang dari mal Grand Indonesia, yang jelas itu adalah mal mewah.
Bagaimana dengannya? Apa ia pernah ke sana, atau ke tempat seperti itu?
Ya Tuhan...semoga kebaikannya dibalas dengan pahala yang berlimpah.


Comments (0)